يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍفَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا َلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya : Wahai orang-orang beriman, jika seorang fasiq (tidak jujur) datang kepadamu dengan membawa berita, periksalah itu dengan teliti, agar kamu tidak membencanai suatu kaum tanpa dimengerti, lalu kamu menjadi orang yang menyesal atas apa yang kamu lakukan (Al-Hujurat, 49:6)


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Berita mengenai tadzkirah begitu sangat gencar, namun sebagian besar merupakan fitnah, bahkan ada Selebaran anti Ahmadiyah muncul di wilayah Bantul (harjo, 7 juni 2008 hal.13) selebaran itu tidak dicantumkan siapa yang menyebarkan. apakah saudara-saudara semuanya sudah melakukan cek dan ricek terhadap ahmadiyah itu sendiri?apakah sudah meneliti berita tersebut?jangan-jangan suatu saat nanti kita akan menyesal sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍفَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا َلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya : Wahai orang-orang beriman, jika seorang fasiq (tidak jujur) datang kepadamu dengan membawa berita, periksalah itu dengan teliti, agar kamu tidak membencanai suatu kaum tanpa dimengerti, lalu kamu menjadi orang yang menyesal atas apa yang kamu lakukan (Al-Hujurat, 49:6)

Kemudian mengenai selebaran tersebut, sayapun telah menerimanya,kebetulan hari itu dalam acara dialog Jemaat Ahmadiyah dengan para Guru Agama DI Jogjakarta, 15 mei 2008 Di Taman Pustaka Arif Rahman Hakim Jogyakarta, kemudian akhir-akhir ini Selebaran Anti Ahmadiyah yang beredar kembali di daerah bantul. Rasanya masyarakt perlu mengetahui penjelasan Ahmadiyah mengenai selebaran tersebut supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan tuduhan-tuduhan palsu.

penjelasannya sebagai berikut,
Mengenai Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, Hadrat Mirza Ghulam Ahmad menulis,”Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia karena bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci Al-qur’an.”(Rukhani Khazain vol 10 hlm 442);”Apa yang termaktub di dalam Al-Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada di atas semua wahyu-wahyu lainnya.”(Majmua Isytiharat vol 2 hlm 84); berkenaan dengan kalimah syahadat, beliau menulis, “Inti dari kepercayaan saya adalah Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur Rasulullahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah : Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah khataman nabiyyin dan khairul mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Di tangan beliau hukum syariat telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Izalah Auham, 1891:137). Keyakinan tentang hal ini juga terdapat dalam Malfuzhat (jilid I, hal 342), Taqrir Wajibul I’lan (1891), Kisti Nuh (1902, hal 15), Al Wasiyat (JAI, 2006, hal 24).
Sesudah Nabi Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah nabi kepada seseorang kecuali bila ia lebih dahulu menjadi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad SAW.”(Tajalliyati Illahiyah, 1906, hal. 9).”Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya ke dalam beliau.”(Ek Ghalti ka Izalah 1901, hal 3)


1. APAKAH ALLAH MENULIS SEPERTI MANUSIA ?

KASYFI SURKHI KE CHINTHE
Artinya: Kasyaf percikan tinta merah

Penjelasannya sebagai berikut, melihat Tuhan dalam bentuk manusia di waktu mimpi adalah jaiz. yang Mulia Nabi besar Muhammad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَأَيْتُ رَبِّي فِى صُورةِ شَابٍ أَمْرَ دَقِطَةٍ لَهُ وَفْرَةٌ مِنْ شَعْرٍ وَفِى رِجْلَيْهِ نَعْلاَنِ مِنْ ذَهَبٍ
Artinya: Aku melihat Tuhanku dalam bentuk seorang pemuda di waktu mimpi yang tidak berkumis dan berjenggot, yang memiliki rambut panjang dan lebat dan pada kedua kakinya mengenakan sepasang terompah dari emas (Al-Yawaqit wal-Jawahir, Jilid I, hal. 71, Thabrani wa Maudhu’ati Kabir, hal 46.)
Ini adalah Hadits shahih sebagaimana Mulla Ali Qari Jalilul Qadri rahmatullahi ‘alaihi seorang Ahli Hadits yang telah memperkuat dengan mengutip Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anh sebagai berikut:
لاَ يُنْكِرُهُ إِلاَّ الْمُعْتَزَلِيُّ
Tidak ada orang yang mengingkarinya kecuali orang Mu’tazilah (Maudhu’at Kabir, hal. 46).

Mulla Ali Qari rahmatullahi ‘alaihi memberikan makna kepada Hadits itu dengan keterangan sebagai berikut:
إِنْ حُمِلَ عَلَى الْمَنَامِ فَلاَ أَشْكَالَ فِى الْمَقَامِ
Artinya: Jika Dia Allah dibawa dalam mimpi, maka tiada bentuk dalam tempat itu (Maudhu’at Kabir, hal. 46).

Hadits ini terdapat dalam sebagian edisi Maudhu’at, sedang rujukannya terlampir pada hal. 39, yakni apabila kejadian ini dilihat dalam mimpi maka kesulitan apa lagi yang dihadapi, sedang permasalahannya sudah jelas.

Orang-orang ghair Ahmadi mengajukan keberatan atas kasyaf percikan tinta merah: “Pabrik mana yang membuat kertas tersebut, di mana tinta dan pena dibuat?”. Coba ceriterakan juga pabrik mana yang membuat sorban dan terbuat dari apa mahkota itu.
Hadhrat Muhyiddin Ibnu Arabi rahmatullah ‘alaihi menulis sebagai berikut:
“Para waliyullah mendapatkan wahyu dengan berbagai macam cara: Ada yang melalui pemikiran, melalui perasaan, melalui hati dan kadang-kadang mendapatkan melalui tulisan. Dengan cara seperti itulah kebanyakan para wali mendapatkan wahyu.
Abu Abdullah Qadhiul-Baan dan Taki Ibnul Mukhallid murid Imam Ahmad rahmatullah ‘alaihi mendapatkan wahyu berupa tulisan dengan bahasa malaikat. Dan ketika ia terbangun dari tidurnya, maka ia mendapatkan tulisan di atas lembaran kertas. Saya sendiri melihat tulisan itu. Ia adalah seorang fakir di Muthaf yang turun kepadanya wahyu dalam corak seperti itu. Di dalamnya tertulis bahwa ia akan diselamatkan dari api Neraka. Ketika orang umum melihatnya, mereka yakin bahwa itu bukan tulisan manusia ... Inilah peristiwa yang terjadi pada seorang wanita fakir dari antara murid-murid saya. Ia melihat dalam mimpi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi kepadanya selembar kertas, ketika ia bangun tangannya mengepal, tidak ada seorang pun yang dapat membukanya. Saya mendapatkan wahyu, supaya saya berkata kepadanya: Apabila tangan kamu terbuka nanti, maka hendaknya tulisan itu ditelan. Kemudian ia pun sesuai dengan niatnya mendekatkan tangannya ke mulutnya. Setelah itu tiba-tiba tangannya terbuka dan seketika itu juga tulisan itu ditelannya. Orang-orang berkata kepada saya dari mana kamu mengetahui hal itu? Saya menjawab: “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengilhamkan kepada saya bahwa seorangpun tidak boleh membaca tulisan”. (Fubtuhat Makkiyah, bab XV, rujukan terjemah Urdu Khususul-Hikam, Tadzkirah Syeikh Akbar Ibnul-Arabi, hal. 22).

Berdasarkan kasysyaf Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam berikut ini ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Oleh karena Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah-Nya yang khas mencelupkan pena ke dalam tinta secara berlebihan, karena itu Dia percikkan:
Tuhan dapat mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Aqidah orang Aria adalah salah yang menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat mengadakan yang tidak ada menjadi ada. Melainkan Dia dapat membuat sesuatu dari bahan yang telah ada.
Percikan tinta merah adalah sebagai kabar gaib tentang akan kematian Likhram.(Likhram adalah orang yang membenci Mirza Ghulam Ahmad pada saat itu)
Maksud membubuhkan tanda tangannya itu adalah Allah swt menetapkan keputusan kematian Likhram, ternyata demikianlah yang terjadi.

a.Ada tertulis dalam sebuah Hadits yang berbunyi demikian:

خَلَقَ اللهُ ثَلاَثَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ خَلَقَ آدَمَ بَيَدِهِ وَكَتَبَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ وَ غَرَسَ الْفِرْدَوْسَ بِيَدِهِ
Artinya: Allah telah menciptakan tiga perkara dengan Tangan-Nya; Dia telah menciptakan Adam dengan Tangan-Nya; Dia telah menulis Taurat dengan Tangan-Nya dan menciptakan Sorga dengan Tangan-Nya (Firdausul-Akhbar Daelami, hal. 100, Ad-Dailami dari Haris bin Naufal ra dan Kanzul-Ummal, Juz VI/ 15138))

Menurut Hadis tersebut Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan 3 hal dengan Tangan-Nya sendiri:
Menciptakan Adam dengan Tangan-Nya sendiri.
Menulis Taurat dengan Tangan-Nya sendiri.
Menciptakan Sorga dengan Tangan-Nya sendiri.
Sekarang, bagaimana kalian berkeberatan kepada kasysyaf tentang percikan tinta merah itu? Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri menulis dengan Tangan-Nya sendiri. Di pabrik mana kertasnya dibuat dan di mana tinta dan penanya dibuat dan lain-lainnya? Atas semua keberatan ini coba bacalah:

كَتَبَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ
Artinya: Dia telah menulis Taurat dengan Tangan-Nya.
Apa pun jawaban kalian, maka itu pulalah jawaban kami.

2.ALLAH BERPUASA?
أُفْطِرُ وَأَصُومُ
Artinya: Aku berbuka dan berpuasa
Jawaban:
1.Dalam mengomentari hal itu Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam bersabda: Jelas bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bebas dari menjalankan ibadah berbuka dan puasa. Kata-kata ini artinya tidak dapat dinisbahkan kepada-Nya. Oleh karena itu hanya merupakan sebuah kiasan dan maksud yang sebenarnya adalah Aku (Allah) terkadang memperlihatkan kemarahan-Ku dan terkadang Aku memberikan tempo, persis seperti orang yang kadang-kadang makan dan kadang-kadang berpuasa serta menahan dirinya dari makan. Kiasan seperti itu banyak terdapat di dalam kitab-kitab Allah sebagaimana di hari Qiamat Tuhan akan mengatakan bahwa Aku dulu sakit, Aku dulu lapar, Aku dulu telanjang.”. (Hakikatulwahi hal 104).

2.Kemudian Dia bersabda: Aku akan membagi waktu-Ku menjadi beberapa waktu. Bahwa sebagian tahun Aku akan berbuka, yakni Aku akan menghancurkan orang-orang dengan Taun dan untuk beberapa tahun Aku akan berpuasa, yakni akan datang suasana aman dan Taun akan berkurang atau sama sekali tidak akan tersisa lagi. (Daafi'ul-bala hal 817 lihat Tazkirah hal 395 catatan kaki ( alif ba ).

Hadits yang Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam berikan refrensinya itu terdapat di dalam Hadis Muslim yang berbunyi:.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدِنِي ... يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى ... يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي
Artinya: Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu ia berkata: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bahwa pada hari kiamat Allah Azza wa Jalla akan berkata; Wahai anak adam, Aku dulu sakit kamu tidak menjenguk-Ku, Wahai anak Adam, Aku dulu minta makanan kepadamu namun kamu tidak memberi makan kepada-Ku. Wahai anak Adam, Aku dulu meminta minum air kepadamu namun kamu tidak memberi aku air" (Riyadhush-Shaalihin, hal. 205 cetakan Mesir, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz XV/ 43277 )
Dengan demikian, apakah Tuhan dapat sakit, dapat lapar dan dapat haus. Tetapi Dia subhanahu wa ta’ala tidak dapat berpuasa?.

3. ALLAH BERSALAH?

أُخْطِئُ وَأُصِيبُ
Artinya: Aku melakuakn kesalahan dan melakukan kebenaran

Jawaban:
a.Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam telah memberikan penjelasan seperti di bawah ini:
Aku kadang-kadang melepaskan keinginan-Ku dan kadang-kadang Aku memenuhi keinginan-Ku…. sebagaimana tertera dalam HadiTs bahwa pada saat Aku mencabut nyawa orang yang beriman Aku senantiasa ragu. Padahal Tuhan suci dari sifat ragu-ragu. . Artinya Aku kadang-kadang membatalkan kehendak-Ku. Dan kadang-kadang keinginan itu terpenuhi sebagaimana yang diinginkan. (Haqiqatul- wahyi, hal 103 pada catatan kaki)
Hadits yang diisyarahkan oleh Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam itu terdapat dalam Shahih Bukhari yang berbunyi:
وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيئٍ أَنَا فَاعِلَُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ
Artinya: Allah subhanahu wa ta’ala berfrirman: Aku tidak pernah sedemikian ragu tentang sesuatu sebagaimana Aku ragu dalam mencabut ruh orang beriman. (Bukhari Kitabur-riqaq babut-tawaadhu' jilid 4 hal. 80 Cetakan Mesir).

4. ALLAH JAGA DAN TIDUR?
أَسْهَرُ وَأَنَامُ
Artinya: Aku jaga dan Aku tidur
Jawaban:
a.Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam bersabda berkenaan dengan wahyu ini: Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bebas dari tidur. Maksud wahyu ini adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menutupi kelemahan sebahagian orang-orang yang berdosa dan terkadang memberikan hukuman padanya juga.

b.Jadi Jika kata-kata kiasan berkenaan dengan Tuhan, seperti lapar, makan dan minum, dan lain-lain sebagaimana di dalam kutipan Hadits Muslim yang baru kami terangkan dalam jawaban "Afthiru wa ashuumu", maka mengapa kata tidur dan jaga secara qiasan tidak dapat digunakan?

Inilah penjelasan kami, jadi apa yang dituduhkan perlu kiranya diklarifikasikan dahulu terhadap para ahmadi, tidak serta merta terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang menginginkan umat islam ini saling bermusuhan, semboyan kami “Love For All, Hatred For None artinya Kecintaan untuk siapapun, kebencian tidak untuk siapapun.
-----oo0oo-----

Tidak akan terjadi Sa’ah sampai engkau berperang melawan Yahudi, sehingga batu berkata yang di belakangnya ada Yahudi, wahai muslim! Ini orang Yahudi berada di belakang saya, maka bunuhlah ia

PEPERANGAN ANTARA YAHUDI DENGAN MUSLIMIN (15)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq



لاَتَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا الْيَهُودَ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ وَرَاءَهُ الْيَهُودِيُّ: يَا مُسْلِمُ ! هذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai engkau berperang melawan Yahudi, sehingga batu berkata yang di belakangnya ada Yahudi, wahai muslim! Ini orang Yahudi berada di belakang saya, maka bunuhlah ia ( Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38403 )

لاَتَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ ، فَيَقْتُلَهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئُ الْيَهُودِيُّ وَرَاءَ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ وَالشَّجَرُ : يَا مُسْلِمُ ! يَا عَبْدَ اللهِ !هذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ ، إِلاَّ الْغَرْقَدَ فَإِنَّه شَجَرُ الْيَهُودِ
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai orang-orang Islam berperang melawan kaum Yahudi; lalu orang-orang Islam membunuh mereka, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon; lalu batu dan pohon itu berkata: Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini orang Yahudi berada di belakang saya, kemarilah, lalu bunuhlah ia, kecuali gharqad, sebab ia termasuk pohon Yahudi ( Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38417 )

إِذَا ظَهَرَ فِيكُمْ مِثْلُ مَا ظَهَرَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ ، إِذَا كَانَتِ الْفَاحِشَةُ فِي كِبَارِكُمْ ، وَالْمَلِكُ فِي صِغَارِكُمْ ، وَالْعِلْمُ فِي رُذَالِكُمْ (حم ، ع ، ه – عن أنس ، قَالَ : قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ! مَتَى نَدَعُ اْلأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ ؟ قَالَ – فَذَكَرَه ، وَ لَفْظُ ع : إِذَا ظَهَرَ اْلأَذْهَانُ فِي خِيَارِكُمْ ، وَالْفَاحِشَةُ فِي شِرَارِكُمْ ، وَتَحُولُ الْمَلِكُ فِي صِغَارِكُمْ ، وَالْفِقْهُ فِي رُذَالِكُمْ
Apabila di kalangan kamu tampak seperti apa yang tampak pada Bani Israil, yaitu apabila perbuatan keji terjadi pada para pembesar kamu, dan raja di kalangan orang-orang yang kecil kamu, dan ilmu berada di kalangan orang-orang rendah kamu ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Abu Daud, At-Turmudzi, An-Nasa’, Ibnu Majah dari Anas ra berkata: ditanyakan, wahai Rasulallah! Kapan kami mengajak berbuat baik dan mencegah perbuatan buruk? Beliau bersabda: Lalu menyebutkan Hadits tersebut, sedang lafazh bagi Abu Daud, At-Turmudzi, An-Nasai’ dan Ibnu Majah: Apabila kecerdikan telah tampak di kalangan orang-orang baik kamu, dan kekejian tampak di kalangan orang-orang buruk kamu, dan raja (penguasa) berpindah di kalangan orang-orang kecil kamu, dan pemahaman agama berada di kalangan orang-orang rendah kamu ( Kanzul-Umal, Juz XIV /38502 )

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمُ الْخَاصَّةِ وَفَشْوُ التِّجَارَةِ حَتَّى تُعِينُ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ وَحَتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بِمَالِه إِلَى أَطْرَافِ اْلأَرْضِ فَيَرْجِعَ فَيَقُولَ : لَمْ أَرْبَح شَيْئًا
Sesungguhnya di antara Sa’ah itu adalah penghormatan secara khusus dan merajalela perdagangan sampai seorang perempuan menolong suaminya berdagang dan sampai seorang laki-laki keluar dengan hartanya hingga ke ujung dunia, lalu ia pulang sambil berkata: Saya tidak mendapat laba sedikitpun ( Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Ibnu Masud ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38515 )
لاَتَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَأْخُذَ اللهُ شَرِيْطَتَه مِنْ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَيَبْقَى عِجَاجٌ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai batu menunjukkan orang-orang Yahudi yang bersembunyi yang dicari oleh orang-orang Islam, lalu ia melihat kakinya, lalu ia bersembunyi dan batu itu berkata: Wahai hamba Allah! Ini apa yang kamu cari ( Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Samrah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38578 )


Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah saw ini menubuatkan terjadinya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, jika tanda dan syarat dalam hadits ini sudah menjadi kenyataan, di antaranya:
1. Apabila kaum muslimin berperang melawan kaum Yahudi dan kaum Yahudi mengalami kekalahan sampai-sampai kemanapun mereka melarikan diri dan bersembunyi akan diketahuinya, sebab pohon-pohonan membantu kaum muslimin.

2. Apabila kaum muslimin meniru kebiasaan yang terjadi di kalangan kaum Yahudi, yaitu:
i. Apabila perbuatan keji sudah merajalela di kalangan para pejabat yang mengaku muslimin.
ii. kebanyakan pemimpin kaum muslimin berasal dari rakyat kecil atau rendahan.
iii. Ilmu agama telah dimiliki kaum muslimin yang rendahan.

3. Apabila pemberian tanda kehormatan yang istimewa sudah merajalela.

4. Apabila perdagangan bebas sudah terjadi, sehingga istri membantu suaminya berdagang sampai ke ujung dunia, tetapi pulang tidak membawa keuntungan apa-apa.


Sesungguhnya di antara tanda Sa’ah adalah terjadinya kekacauan. Ditanyakan: Apakah kekacauan itu? Beliau bersabda: Peperangan dan bukan peperangan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi peperangan umum, sebagai bangsa melawan sebagian bangsa yang lain, sampai-sampai seorang laki-laki yang bertemu saudaranya, lalu

KAUM MUSLIMIN AKAN DILANDA FANATIS AGAMA YANG SALAH (14)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq



إِذَا ذَخْرَفْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالدِّمَارُ عَلَيْكُمْ
Apabila kamu menempati masjid-masjid kamu dan kamu menghiasi kitab-kitabmu, maka kebinasaan menimpah kamu ( Al-Hakim dari Abu Ad-Darda’ dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38420)

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ الْهَرَجَ ، قِيلَ : وَمَا الْهَرَجُ ؟ قَالَ : اَلْقَتْلُ ، وَمَا هُوَ قَتْلُ الْكُفَّارِ وَلكِنْ قَتْلُ اْلأُمَّةِ بَعْضِهَا بَعْضًا حَتَّى أَنَّ الرَّجُلَ يَلْقَى أَخَاهُ فَيَقْتُلَه ، يُنْتَزَعُ عُقُولُ أَهْلِ ذلِكَ الزَّمَانِ وَيَخْلَفُ لَه هَبَآءُ مِنَ النَّاسِ ، يَحْسَبُ أَكْثَرُهُمْ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْئٍ وَلَيْسُوا عَلَى شَيْئٍ
Sesungguhnya di antara tanda Sa’ah adalah terjadinya kekacauan. Ditanyakan: Apakah kekacauan itu? Beliau bersabda: Peperangan dan bukan peperangan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi peperangan umum, sebagai bangsa melawan sebagian bangsa yang lain, sampai-sampai seorang laki-laki yang bertemu saudaranya, lalu ia membunuhnya. Akal penduduk orang-orang pada zaman itu hilang dan debu manusia yang mengganti akal manusia zaman itu. Kebanyakan mereka itu menyangka mereka berada pada suatu kebenaran, tatapi sebenarnya mereka tidak berada di atas itu ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Ibnu Majah, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir, Ibnu Asakir dari Abu Musa ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38546 )




Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah saw ini memberikan peringatan kepada kaum muslimin bahwa bahwa datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka itu akan terjadi jika tanda dan syaratnya sudah terpenuhi. Di antaranya adalah:
1. Apabila kekayaan kekayaan sudah melimpah-ruah sampai-sampai pemiliknya bersedih hati karena khawatir tidak ada yang mau menerima sedekahnya.
Maksud dari kekayaan yang melimpah-ruah dalam hadits ini, mestinya harus diartikan secara majazi, sebab pada umumnya manusia termasuk kaum muslimin jika diberi harta duniawi pasti mau dan senang, walaupun mereka sudah kaya. Sedangkan arti secara majazi adalah harta kekayaan ruhani berupa ma’rifat Al-Quran atau ilmu hidayah Ilahi yang melimpah-ruah pada diri Imam Mahdi as dan para pengikutnya, sudah ditawarkan dan disebarkan dengan cuma-cuma kepada semua manusia di seluruh pelosok dunia, namun kenyataan hanya sedikit sekali yang mau menerimanya. Pada umumnya mereka menolak, karena merasa tidak membutuhkannya. Tetapi jika harta duniawi, jangankan diberikan, disimpan saja mereka curi. Bahkan harta kekayaan yang diamanatkan kepada orang yang pandai dan kaya saja, mereka korupsi. Atau bisa juga harta duniawi yang akan diberikan dengan syarat. Seperti Imam Mahdi as sering menawarkan akan memberikan sejumlah uang yang sangat banyak kepada siapa saja yang bisa menandingi karya tulis beliau as.
2. Apabila tanah Arab sudah yang sangat gersang dan tandus itu menjadi banyak tumbuh-tumbuhan dan sungai-sungai.
3. Apabila kaum muslimin senang membangun masjid-masjid dan membanggakan besar dan keindahan bangunannya, mereka suka menghiasi mushkhaf-mushhkhaf Al-Quran dengan tulisan dan kemasan yang indah, namun kebanyakan mereka tidak mengerti isinya, malah hidup mereka menyimpang dari petunjuk yang ada di dalamnya.
4. Apabila perang secara umum antara bangsa-bangsa sudah terjadi.
Mungkin yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah perang dunia pertama dan perang dunia kedua atau akan terjadi lagi perang dunia ketiga.
5. Sa’ah itu akan terjadi pada siang hari pada hari Jum’at.
Nampaknya yang dimaksudkan siang hari itu adalah di saat cahaya kebenaran Islam terlihat dengan terang-benerang, dan yang dimaksudkan hari Jum’at adalah pada masa ribuan tahun yang keenam dari Adam as. kira-kira dalam abad 19 dan 20 Masehi.


Sa’ah tidak akan terjadi sehingga Allah memuliakan tiga hal, yaitu: Dirham yang halal; ilmu yang bermanfaat dan saudara dalam

BANGSA ARAB DIJADIKAN KERA DAN BABI (13)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُمِزَّ اللهُ فِيهِ ثَلاَثًا : دِرْهَمًا مِنْ حَلاَلٍ ، وَعِلْمًا مُسْتَفَادًا ، وَأَخًا فِى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Sa’ah tidak akan terjadi sehingga Allah memuliakan tiga hal, yaitu: Dirham yang halal; ilmu yang bermanfaat dan saudara dalam Allah Azza Wajalla (Ad-Dailami dari Khudzaifah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38600)

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَفْتَحَ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ الْقَسْطَنْطِينِيَةَ الرُّومِيَةَ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّكْبِيرِ
Sa’ah tidak akan terjadi sehingga Allah membuka Kostantin Romawiyah bagi orang-orang yang beriman dengan tasbih dan takbir ( Ad-Dailami dari Amer bin Auf ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38601 )


لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا
Sa’ah tidak akan terjadi sehingga Madinah meniadakan keburukannya (Ad-Dailami dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-umal, Juz XIV /38602 )
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْلَبَ أَهْلُ الْقَفِيزِ عَلَى قَفِيزِهِمْ ، وَأَهْلُ الْمُدِّ عَلَى مُدِّهِمْ وَأَهْلُ اْلإِرْدِبِ عَلَى إِرْدِبِهِمْ ، وَأَهْلُ الدِّينَارِ عَلَى دِينَارِهِمْ ، وَأَهْلُ الدِّرْهَمِ عَلَى دِرْهَمِهِمْ ، وَيَرْجِعَ النَّاسُ إِلَى بِلاَدِهِمْ
Sa’ah tidak akan terjadi sehingga pemilik takaran mengalahkan takaran mereka; dan pemilik takaran mud mengalahkan mud mereka; dan pemilik ukuran ardab mengalahkan ukuran ardab mereka; dan pemilik dinar mengalahkan dinar mereka; dan pemilik dirham mengalahkan dirham mereka dan manusia kembali ke negara mereka ( Ibnu Asakir dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38605 )


Komentar:

Hadis-hadis Rasulullah saw ini menubuatkan datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara tanda-tandanya adalah:

1. Apabila sudah terjadi tiga hal, yaitu:
i. Dunia sudah dilanda barang-barang dan cara-cara haram dalam mendapatkan kekayaan. Pada saat itu orang yang mendapatkan harta yang halal sangat mulia di mata Allah dan di mata umat manusia. Pada zaman sekarang ini hal itu benar-benar sudah terjadi, sampai-sampai banyak orang berkata: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”.
ii. Ilmu yang bermanfaat dimuliakan, sehingga orang yang mencari ilmu pada saat itu membutuhkan biaya yang besar dan kemauan yang keras disamping kecerdasan yang tinggi.
iii. Persaudaraan dalam Allah dimuliakan. Maksudnya persaudaraan seagama Islam dalam satu Jamaah kaum muslimin yang didirikan oleh Imam Mahdi as atas perintah Allah lebih dijunjung tinggi melebihi ikatan persaudaraan sedarah, persahabatan dan ikatan kerja. Bahkan para pengikut Jamaah ini juga mencintai kepada setiap manusia, tidak tidak menaruh kebencian kepada siapapun, sampai mereka memiliki semboyan yang berbunyi dalam:

- Bahasa Urdu:

- Bahasa Arab:

- Bahasa Inggris: Love for all hatered for none

- Bahasa Indonesia: Cinta untuk semua, tidak ada kebencian kepada siapapun

2. Apabila Konstantin Rumawi jatuh kepada kaum mukmin dengan sarana tasbih dan takbir. Mungkin yang dimaksudkan hadis itu adalah orang-orang Rumawi akan masuk kedalam agama Islam berkat tabligh Jamaah Islam Ahmadiyah yang senantiasa menjunjung tinggi kesucian Allah yang selama ribuan tahun telah dinodai kaum Nasrani, khususnya Kristen Rumawi. Dan mereka akan mengagungkan Allah dengan sepenuh jiwa dan harta mereka semata-mata untuk mencari ridha Allah.

Sa’ah tidak akan terjadi sampai dua golongan besar saling berperang. Pangilan keduanya adalah satu. Sa’ah itu tidak akan terjadi sampai Dajjal pendusta dibangkitkan

PRAHARA SESAMA KAUM MUSLIMIN (12)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيْبًا مِنْ ثَلاَثِيْنَ ، كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّه رَسُولُ اللهِ

Sa’ah tidak akan terjadi sampai dua golongan besar saling berperang. Pangilan keduanya adalah satu. Sa’ah itu tidak akan terjadi sampai Dajjal pendusta dibangkitkan mendekati tiga puluh, semuanya menyangka bahwa diri mereka itu adalah utusan Allah ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Turmudzi dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38402 )

Sa’ah tidak akan terjadi sampai harta di kalangan kamu banyak dan melimpah-ruah sehingga tuan harta bersedih. Siapa yang mau menerima sedekahnya dan sampai ia menawarkannya; lalu

PADANG PASIR ARAB AKAN DIHIJAUKAN DENGAN TANAMAN DAN BANYAK SUNGAINYA (11)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهَمَّ رَبُّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَه وَحَتَّى يُعْرِضُه فَيَقُولُ الَّذِي يُعْرِضُه عَلَيْهِ : لاَ أَرْبَ لِي فِيهِ
Sa’ah tidak akan terjadi sampai harta di kalangan kamu banyak dan melimpah-ruah sehingga tuan harta bersedih. Siapa yang mau menerima sedekahnya dan sampai ia menawarkannya; lalu berkatalah orang yang ditawari harta itu: Tidak ada kebutuhan bagiku pada harta tersebut ( Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38401 )

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْمَالُ وَيَفِيضَ حَتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بِزَكَاةِ مَالِه فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُه مِنْهُ وَحَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai harta menjadi banyak dan melimpah sampai seseorang mengeluarkan zakat hartanya, tatapi tidak ada seorang pun yang mau menerimanya dan sampai tanah Arab kembali banyak tanah lapang yang bertumbuh-tumbuhan dan sungai-sungai ( Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38412 )

Sa’ah tidak akan terjadi sampai kamu memerangi Turki bermata sipit, wajahnya kemerah-merahan, sahabat-sahabat karib mendekat seakan-akan wajah mereka itu Al-majan al-mutharriqah dan tidak akan terjadi Sa’ah itu sampai engkau berperang dengan kaum yang sepatu mereka itu berupa

MANUSIA AKAN MENCINTAI RASULULLAH SAW DARIPADA KELUARGA DAN HARTANYA (10)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التِّرْكَ صِغَارَ اْلأَعْيُنِ حَمْرَ الْوُجُوهِ زُلْفَ اْلأُلُوفِ ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقُ ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشِّعْرُ ، وَلْيَأْتِيْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ زَمَانٌ لِلأَنْ يُرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَه مِثْلُ أَهْلِه وَمَالِه
Sa’ah tidak akan terjadi sampai kamu memerangi Turki bermata sipit, wajahnya kemerah-merahan, sahabat-sahabat karib mendekat seakan-akan wajah mereka itu Al-majan al-mutharriqah dan tidak akan terjadi Sa’ah itu sampai engkau berperang dengan kaum yang sepatu mereka itu berupa rambut. Dan sungguh akan datang suatu zaman kepada seorang di antaramu yang menyebabkan ia lebih suka melihat aku daripada keluarga dan hartanya ( Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Turmudzi, Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38404 )

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمِجَانِّ الْمُطْرَقَةِ ، يَلْبَسُونَ الشَّعَرَ وَيَمْشُونَ فِى الشَّعَرِ
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai orang-orang Islam Turki berperang dengan kaum yang wajah mereka itu seperti Al-majan al-mutharriqah, mereka memakai rambut dan berjalan dengan rambut ( Muslim, Bukhari, An-Nasa’ dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38405 )

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكِرْمَانَ مِنَ اْلأَعَجِمِ ، حُمْرَ الْزُجُوهِ فَطْسَ اْلأُلُوفِ ، صِغَارَ اْلأَعْيُنِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمِجَانُ الْمُطْرَقَةُ نِعَالُهُمُ الشَّعَرَ

Tidak akan terjadi Sa’ah sampai kamu berperang melawan khuza dan Kirman dari orang-orang ajam, berwajah merah, hidung pesek, mata kecil se-akan-akan wajah mereka itu al-majan al-mutharriqah, sandal mereka itu rambut ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Bukhari dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38406 )

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُقَاتِلُوا قَوْمًا يَنْتَعِلُونَ نِعَالَالشَّعَرِ، وَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُقَاتِلُوا قَوْمًا عِرَاضَ الْزُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمِجَانُ الْمُطْرَقَةُ
Di antara syarat Sa’ah adalah jika kamu berperang melawan kaum yang mengenakan sandal seperti sandal rambut, dan sesungguhnya di antara syarat Sa’ah adalah engkau berperang melawan kaum yang lebar wajahnya seakan akan wajah mereka itu al-majan al-mutharriqah ( Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Bukhari, Ibnu Majah dari Amer bin Tughlab ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38408 )

سَتَخْرُجُ نَارٌ مِنْ حَضْرِ مَوْتَ قَبْلَ الْقِيَامَةِ تُحْشِرُ النَّاسَ
Akan keluar api dari Hadhra maut sebelum Qiyamat yang menghimpun manusia ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, At-Turmudzi dari Umar ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38456 )



Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah saw ini memberikan peringatan kepada kaum muslimin bahwa datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka itu akan terjadi jika tanda dan syarat dalam sabda Rasulullah saw yang berisi nubuatan itu telah tergenapi, di antaranya adalah:
1. Apabila dua golongan besar yang disebut dengan satu nama saling berperang.
Mungkin yang dimaksudkan dua golongan besar dalam hadits tadi adalah:
i. Kaum muslimin dari golongan Sunni dan Syi’ah yang sejak ratusan tahun lalu hingga kini masih bermusuhan dan saling berperang. Dan mereka itu disebut dengan satu nama yaitu kaum muslimin.
ii. Bangsa Ya’juj wa Ma’juj atau Gog and Magog, yaitu bangsa-bangsa yang menempati daerah Eropa Barat dan Eropa Timur saling berperang dalam perang Dunia I dan II. Dan mereka oleh Allah dan Rasul-Nya disebut disebut dengan satu nama Ya’juj wa Ma’juj.
2. Apabila para pendusta yang menyangka dirinya sebagai Nabi atau Rasul sudah mencapai jumlah tiga puluh.
Nubuat ini benar-benar sudah tergenapi sebab jumlah orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi atau Rasul itu sesudah Rasulullah saw wafat kini sudah mencapai tiga puluh orang.
3. Apabila di bumi sudah sering terjadi gempah bumi.
Nampaknya nubuat ini sudah tergenapi, sebab sejak akhir abad ke 19 dan 20 Masehi volume terjadinya gempah jauh lebih banyak dan korbannya lebih besar dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya.
4. Apabila kaum muslimin berperang melawan Turki.
5. Apabila kaum muslimin berperang melawan bangsa yang kakinya berambut.
6. Apabila kaum muslimin berperang melawan bangsa Khuzan dan Kirman yang wajahnya merah, berhidung pesek dan dan bermata sipit.
7. Apabila bangsa Romawi menjadi banyak.
8. Apabila di daerah Hadhrah Maut sudak mengeluarkan api.
9. Apabila sudah datang segolongan kaum muslimin yang lebih mencintai Nabi Besar Muhammad saw daripada keluarga dan hartanya.
Nubuat hadits ini sekarang sudah digenapi oleh Allah swt, buktinya segolongan kaum muslimin yang berhimpun dalam Jamaah Islam Ahmadiyah senantiasa siap dan taat kepada Nabi Besar Muhammad saw dengan mengorbankan harta dan kepentingan pribadi dan keluarganya karena kecintaan mereka kepada Islam dan Rasulullah saw, seperti yang dilukiskan dalam kitab suci Al-Quran.

Allah swt berfirman:

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anak laki-lakimu, saudara-saudara laki-lakimu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta benda yang telah kamu upayakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai. Semua itu lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang durhaka ( At-Taubah, 9:24 )


MEMBURUKNYA HUBUNGAN KETETANGGAAN DAN HILANGNYA KASIH SAYANG DALAM KELUARGA (09)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq



مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ سُوءُ الْجِوَارِ وَقَطِيْعَةُ اْلأَرْحَامِ وَتَعْطِيْلُ السُّيُوفِ عَنِ الْجِهَادِ وَأَنْ تُخْتَلَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ

Di antara syarat-syarat Sa’ah adalah buruknya hidup bertetangga, dan terputusnya ikatan keluarga sedarah, memperpanjang pedang karena jihad dan jika dunia diperdayakan dengan agama ( Ad-Dailami dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38558 )


MEMBURUKNYA HUBUNGAN KETETANGGAAN DAN HILANGNYA KASIH SAYANG DALAM KELUARGA (09)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq



مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ سُوءُ الْجِوَارِ وَقَطِيْعَةُ اْلأَرْحَامِ وَتَعْطِيْلُ السُّيُوفِ عَنِ الْجِهَادِ وَأَنْ تُخْتَلَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ

Di antara syarat-syarat Sa’ah adalah buruknya hidup bertetangga, dan terputusnya ikatan keluarga sedarah, memperpanjang pedang karena jihad dan jika dunia diperdayakan dengan agama ( Ad-Dailami dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38558 )

Tidak akan terjadi Sa’ah sampai ilmu dicabut., banyak terjadi gempah bumi, zaman itu saling berdekatan, fitnah-fitnah menjadi tampak dan banyak kekacauan, yaitu peperangan

KEBODOHAN DAN BANYAKNYA GEMPA (08)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ ، وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرَجُ وَهُوَ الْقَتْلُ
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai ilmu dicabut., banyak terjadi gempah bumi, zaman itu saling berdekatan, fitnah-fitnah menjadi tampak dan banyak kekacauan, yaitu peperangan ( Bukhari, Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38400 )

تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَلَيْسَ بَهِيمَةٌ إِلاَّ وَهِيَ رَافِعَةٌ رَأْسُهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ تَشْفَقُ مِنَ السَّاعَةِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ
Sa’at terjadi pada hari Jumat; dan tidak ada binatang kecuali ia mengangkat kepalanya pada hari Jumat itu, karena takut pada Sa’ah itu sampai matahari terbenam ( Ad-Dailami dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38561 )

لاَتَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ نَهَارًا
Sa’ah tidak akan terjadi kecuali pada siang hari ( Abu Nu’aim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/ 38562 )

Tidak akan terjadi Sa’ah sampai sungai Furat dari gunung itu merasa letih di mana manusia saling bertempur karena emas di atas sungai itu, lalu sembilan persepuluh dari mereka terbunuh

PERANG DAHSYAT AKIBAT BEREBUT KEKAYAAN (7)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسُرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ يَقْتَتِلُ عَلَيْهِ النَّاسُ فَيُقْتَلُ تِسْعَةُ أَعْشَارِهِمْ

Tidak akan terjadi Sa’ah sampai sungai Furat dari gunung itu merasa letih di mana manusia saling bertempur karena emas di atas sungai itu, lalu sembilan persepuluh dari mereka terbunuh ( Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ubai ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38396 )

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسُرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ يَقْتُلُ النَّاسُ عَلَيْهِ فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ ، فَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
Tidak akan terjadi Sa’ah sampai sungai Furat dari gunung emas merasa letih yang di atasnya manusia dibunuh, lalu dari setiap seratus orang ada sembilan puluh sembilan dibunuh, maka setiap orang dari mereka berkata: Mudah-mudahan aku selamat dari kematian ( Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38397 )
يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسُرَ عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ فَمَنْ حَضَرَه فَلاَ يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا

Hampir-hampir sungai Furat itu merasa letih karena kandungan emas, maka siapa yang datang kepadanya maka ia tidak bisa mengambil sesuatu daripadanya ( Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38399 )




Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah saw ini memberikan peringatan kepada kaum muslimin bahwa datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya akan terjadi jika tanda dan syarat di bawah sudah digenapi, yaitu antara lain :
1. Apabila sudah terjadi peristiwa pertempuran di sungai Furat, sehingga sembilan persepuluh dari mereka terbunuh atau setiap dari seratus orang sembilan puluh sembilan yang terbunuh, hanya karena alasan berebut kekayaan seperti emas.
2. Peperangan di sungai Furat itu sangat mengerikan, sehingga orang-orang berharap agar dirinya selamat dari kematian.
3. Meskipun kekayaan di wilayah tersebut melimpah ruah, tetapi mereka tidak bisa menikmatinya. Justru bangsa-bangsa lain yang bisa mengambil keuntungan dari peristiwa itu.
4. Apabila hubungan manusia ketetanggaan memburuk dan hubungan manusia sedarah menjadi terputus karena mereka dipicu dengan provokasi yang berkedok agama.


Sesungguhnya termasuk di antara syarat-syaratnya Sa’ah itu adalah perbuatan keji, kata-kata kotor, ketetanggaan yang buruk, memutuskan persaudaraan, jika pengkhianatan dipercaya dan orang-orang terpercaya dikhianati, dan perumpamaan orang mukmin itu seperti sepotong emas yang baru dibakar (diuji); lalu

TEGUHNYA IMAN YANG BENAR (6)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ الْفَحْشَ وَالتَّفَحَّشَ وَسُوءَ الْجِوَارِ وَقَطْعَ اْلأَرْحَامِ وَأَنْ يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ وَيُخَوَّنَ اْلأَمِيْنُ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ قِطْعَةِ الذَّهَبِ الْجَيِّدِ أُوقَدَ عَلَيْهَا فَخَلَّصَتْ وَأُوزِنَتْ فَلَمْ تَنْقُصْ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّحْلَةِ أُكِلَتْ طَيِّبًا وَوُضِعَتْ طَيِّبًا أَلاَ! إِنَّ أَفْضَلَ الشُّهَدَاءِ الْمُقْسِطُونَ أَلاَ! إِنَّ أَفْضَلَ الْمُهَاجِرِيْنَ مَنْ هَجَرَ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ أَلاَ! إِنَّ أَفْضَلَ الْمُسْلِمِينَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِه وَيَدِه ، أَلاَ! إِنَّ حَوْضِي طُولُه كَعَرَضِه أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ ، آنِيَتُه عَدَدُ النُّجُومِ مِنْ أَقْدَاحِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ شُرْبَةً لَمْ يَظْمَأْ آخِرَ مَا عَلَيْهَا أَبَدًا

Sesungguhnya termasuk di antara syarat-syaratnya Sa’ah itu adalah perbuatan keji, kata-kata kotor, ketetanggaan yang buruk, memutuskan persaudaraan, jika pengkhianatan dipercaya dan orang-orang terpercaya dikhianati, dan perumpamaan orang mukmin itu seperti sepotong emas yang baru dibakar (diuji); lalu tetap murni, lalu ditimbang dan tidak berkurang,; dan perumpamaan seorang mukmin itu seperti buah kurma, jika dimakan enak dan jika diletakkan kelihatan bagus. Ingatlah ! Sesungguhnya syuhadak yang paling utama adalah orang yang berlaku adil. Ingatlah ! Orang-orang hijrah yang paling utama adalah orang yang hijrah dari apa yang telah diharamkan oleh Allah,. Ingatlah ! Sesungguhnya orang Islam yang paling utama adalah orang Islam yang orang-orang Islam lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Ingatlah ! Sesungguhnya panjang kolamku seperti kehormatannya yang putih susu dan lebih manis daripada madu, tempatnya sebanyak bintang dari gelas-gelas emas dan perak. Siapa yang minum darinya sekali minum tidak akan merasa haus pada waktu lain selamanya ( Al-Kharaith dalam Makarimal-Akhlaq dari Ibnu Umar ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38528 )

Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah saw ini memberikan nubuatan kepada kepada kaum muslimin, bahwa Sa’ah kehancuran suatu kaum yang durhaka di dunia ini akan terjadi:

1. Apabila banyak orang yang mengenakan baju jubah, tetapi hati dan amal perbuatan mereka tidak mencerminkan ajaran Islam, malah bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Apabila perdagangan sudah menggelobal dan kekayaan melimpah-ruah yang menyebabkan kebanyakan kaum muslimin terpengaruh oleh falsafah materialistik. Akibatnya mereka menghormati dan mendewakan para konglomerat lantaran harta kekayaannya di atas orang-orang yang taqwa yang miskin.
3. Apabila keburukan, kejahatan dan kemaksiatan sudah menjalar kemana-mana, di kota dan di desa; di kalangan orang kaya dan miskin; bahkan di kalangan orang yang tidak mengerti agama dan di kalangan orang-orang yang mengerti agama.
4. Apabila sudah terjadi kepemimpinan yang masih kekanak-kanakan.
5. Apabila jumlah kaum wanita melebihi jumlah kaum pria.
6. Apabila banyak pemimpin yang berbuat keburukan, kejahatan dan kemaksiatan.
7. Apabila sudah lazim terjadi kecurangan dalam perdagangan, misalnya dengan cara mengurangi takaran, timbangan, ukuran dll.
8. Apabila banyak orang laki-laki sudah merasa lebih baik memelihara anak anjing daripada anaknya sendiri.
9. Apabila banyak pejabat dan pemimpin yang tidak dihormati karena kejahatannya, dan rakyat kecil tidak disayang, malah diperas dan ditindas.
10. Apabila perbuatan zina dilakukan secara terang-terangan, bahkan dilakukan di jalan-jalan tanpa rasa malu seperti binatang.
11. Apabila banyak pemimpin yang tampaknya baik, tetapi hati mereka lebih buruk daripada srigala.
12. Apabila ada kaum mukmin yang iman mereka seperti sepotong emas yang dibakar, tetapi masih menunjukkan kemurniannya tanpa berubah sedikitpun.
13. Apabila ada kaum mukmin yang seperti buah kurma, jika dimakan rasanya enak dan jika diletakkan kelihatan bagus dan menawan.
14. Apabila perbuatan zhalim sudah merajalela, sehingga langka sekali orang yang berbuat adil. Se akan-akan orang yang berbuat adil sebagai seorang pahlawan ( syahid ) dalam suatu pertempuran.
15. Apabila kaum muslimin sudah banyak yang bergelimang dalam perbuatan dan harta yang haram. Sehingga orang Islam yang berusaha menghindari hal-hal yang haram itu seperti melakukan hijrah yang paling utama.


Apabila zaman itu sudah dekat, maka banyak orang mengenakan baju jubah, banyak perdagangan, banyak harta, konglomerat diagungkan karena hartanya, banyak keburukan, banyak kepemimpinan yang masih bayi, banyak wanita, penguasa menyimpang, ukuran dan timbangan dikurangi, maka seorang laki-laki


MEMPERTUHAN HARTA DAN KEBRUTALAN ANAK (5)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq

إذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ كَثُرَ لُبْسُ الطَّيَالِسَةُ وَكَثُرَتِ التِّجَارَةُ وَكَثُرَ الْمَالُ وَعُظِّمَ رَبُّ الْمَالِ لِمَالِهِ ، وَكَثُرَتِ الْفَاحِشَةُ وَكَانَتْ إِمَارَةُ الصِّبْيَانِ ، وَكَثُرَ النِّسَآءُ ،وَجَارَ السُّلْطَانُ وَطُفِّفَ فِى الْمِكْيَالِ وَالْمِيْزَانِ فَيُرَبِّي جَرُودًا خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُرَبِّي وَلَدًا لَه وَلاَ يُوقَرُ كَبِيرٌ وَلاَ يُرْحَمُ صَغِيرٌ ، وَيَكْثُرُ أَوْلاَدُ الزِّنَا حَتَّى أَنَّ الرَّجُلَ لِيُغَِشِّيَ الْمَرْأَةَ عَلَى قَارِعَةِ الطَّرِيْقِ وَيَلْبَسُونَ جُلُودَ الضَّأْنَ عَلَى قُلُوبِ الذِّئَابِ أَمْثَلُهُمْ فِى ذلِكَ الزَّمَانِ الْمَدَاهِنُ

Apabila zaman itu sudah dekat, maka banyak orang mengenakan baju jubah, banyak perdagangan, banyak harta, konglomerat diagungkan karena hartanya, banyak keburukan, banyak kepemimpinan yang masih bayi, banyak wanita, penguasa menyimpang, ukuran dan timbangan dikurangi, maka seorang laki-laki memelihara anak anjing lebih baik daripada memelihara anak laki-lakinya, orang yang besar tidak dihormati, orang yang kecil tidak disayang, dan banyak anak-anak zina sampai seorang laki-laki mendatangi wanita di tengah jalan dan mereka memakai kulit-kulit domba melebihi hati srigala. Itulah permisalan-permisalan dalam lukisan zaman itu ( Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ta’aqqub dari Muntashirin bin Ammarah bin Abi Dzar dari ayahnya dari kakeknya ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38501 )

Oleh : Abdul Rozaq




يَا ابْنَ مَسْعُودٍ ! إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَعْلاَمًا وَ إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَشْرَاطًا أَلاَ ! وَإِنَّ مِنْ عِلْمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ غَيْظًا ،وَ أَنْ يَكُونَ الْمَطَرُ قَيْظًا وَأَنْ يُقْبَضَ اْلأَشْرَارُ قَبْضًا ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ! مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُصَدَّقَ الْكَاذِبُ وَأَنْ يُكَذَّبَ الصَّادِقُ يَا ابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ وَأَنْ يُخَوَّنَ اْلأَمِيْنُ يَا ابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُوَاصَلَ اْلأَطْبَاقُ وَأَنْ يُقَاطَعَ اْلأَرْحَامُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُسَوَّدَ كُلَّ قَبِيْلَةٍ مُنَافِقُوهَا وَكُلَّ سُوقٍ فُجَّارُهَا يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُوْنَ الْمُؤْمِنُ فِى الْقَبِيْلَةِ أَذَلَّ مِنَ النَّقْدِ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُزَخْرَفَ الْمَحَارِيْبُ وَأَنْ تُخْرَبَ الْقُلُوبُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُكْتَفَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ وَالنِّسَآءُ بِالنِّسَآءِ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُكْنَفَ الْمَسَاجِدُ وَأَنْ تَعْلُوَ الْمَنَابِرُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُعْمَرَ خَرَابُ الدُّنْيَا وَيُخْرَبَ عُمْرَانُهَا يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُظْهَرَ الْمَعَازِفُ وَشُرِبَ الْخُمُورُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَكْثُرَ الشُّرُطُ وَالْهَمَّازُونَ وَالْغَمَّازُونَ وَالْلَّمَّازُونَ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَكْثُرَ أَوْلاَدُ الزِّنَا



Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya Sa’ah itu mempunyai beberapa tanda. Dan sesungguhnya Sa’ah itu mempunyai beberapa syarat. Ingatlah ! Sesungguhnya di antara ilmu Sa’ah dan syarat-syaratnya itu apabila seorang anak laki-laki menjadi marah, dan

DAMPAK BURUK MUSIK DI AKHIR ZAMAN (04)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq




يَا ابْنَ مَسْعُودٍ ! إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَعْلاَمًا وَ إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَشْرَاطًا أَلاَ ! وَإِنَّ مِنْ عِلْمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ غَيْظًا ،وَ أَنْ يَكُونَ الْمَطَرُ قَيْظًا وَأَنْ يُقْبَضَ اْلأَشْرَارُ قَبْضًا ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ! مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُصَدَّقَ الْكَاذِبُ وَأَنْ يُكَذَّبَ الصَّادِقُ يَا ابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ وَأَنْ يُخَوَّنَ اْلأَمِيْنُ يَا ابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُوَاصَلَ اْلأَطْبَاقُ وَأَنْ يُقَاطَعَ اْلأَرْحَامُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُسَوَّدَ كُلَّ قَبِيْلَةٍ مُنَافِقُوهَا وَكُلَّ سُوقٍ فُجَّارُهَا يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُوْنَ الْمُؤْمِنُ فِى الْقَبِيْلَةِ أَذَلَّ مِنَ النَّقْدِ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُزَخْرَفَ الْمَحَارِيْبُ وَأَنْ تُخْرَبَ الْقُلُوبُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُكْتَفَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ وَالنِّسَآءُ بِالنِّسَآءِ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُكْنَفَ الْمَسَاجِدُ وَأَنْ تَعْلُوَ الْمَنَابِرُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُعْمَرَ خَرَابُ الدُّنْيَا وَيُخْرَبَ عُمْرَانُهَا يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُظْهَرَ الْمَعَازِفُ وَشُرِبَ الْخُمُورُ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَكْثُرَ الشُّرُطُ وَالْهَمَّازُونَ وَالْغَمَّازُونَ وَالْلَّمَّازُونَ يَاابْنَ مَسْعُودٍ! إِنَّ مِنْ أَعْلاَمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَكْثُرَ أَوْلاَدُ الزِّنَا



Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya Sa’ah itu mempunyai beberapa tanda. Dan sesungguhnya Sa’ah itu mempunyai beberapa syarat. Ingatlah ! Sesungguhnya di antara ilmu Sa’ah dan syarat-syaratnya itu apabila seorang anak laki-laki menjadi marah, dan jika hujan menjadi panas dan apabila keburukan-keburukan dicabut. Wahai Ibnu Mas’ud ! Di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya itu apabila seorang pendusta dibenarkan dan seorang yang benar didustakan. Wahai Ibnu Mas’ud ! Di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya itu adalah orang yang khianat dipercaya dan orang terpercaya dikhianati. Wahai Ibnu Mas’ud! Diantara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya itu adalah jika orang-orang yang sesuai saling menyambung hubungan komunikasi dan jika saudara-saudara sedarah saling memutuskan hubungan,. Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya di antara tanda –tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya itu adalah apabila setiap suku dipimpin oleh orang-orang munafiqnya dan setiap pasar dipimpin oleh orang-orang jahatnya. Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila seorang mukmin dalam suatu suku menjadi lebih rendah daripada uang. Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya diantara tanda-tanda Sa’ah dan syaratnya adalah apabila tempat imaman masjid diperindah dan hati tidak mengerti agama. Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila orang laki-laki merasa cukup dengan laki-laki dan orang-orang perempuan merasa cukup dengan perempuan. Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila masjid-masjid dijaga dan mimbar-mimbar ditinggikan. Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila kehancuran dunia itu dibangun dan bangunan-bangunannya dirobohkan. Wahai Ibnu Mas’ud! Di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila jenis alat-alat musik yang bersenar banyak diunggulkan dan khamer diminum. Wahai Ibnu Mas’ud! Di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila banyak orang hina, pengumpat, suka memfitnah dan mengadu domba (provokator). Wahai Ibnu Mas’ud ! Sesungguhnya di antara tanda-tanda Sa’ah dan syarat-syaratnya adalah apabila banyak anak-anak zina ( Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ibnu Mas’ud ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38495 )


Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah saw ini menubuatkan tentang datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka, apabila tanda-tanda dan syarat-syaratnya sudah terjadi. Di antaranya adalah:
Apabila ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai perkembangan sedemikian maju, seperti diciptakan sarana transportasi, informasi, dan komunikasi yang canggih. Sehingga jarak yang jauh hanya ditempuh dalam waktu yang pendek, seakan-akan jika jarak itu ditempuh pada zaman Rasulullah saw membutuhkan satu bulan, tatapi pada zaman akhir cukup satu minggu saja; yang dahulunya membutuhkan waktu satu minggu, dapat ditempuh hanya dalam waktu sehari; dan yang dahulu membutuhkan waktu sehari, dapat ditempuh hanya dalam waktu satu jam saja.
Apabila binatang-binatang buas sudah diteliti untuk diambil manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Apabila anak laki-laki banyak yang marah kepada orang tuanya.
Apabila sudah banyak hujan rahmat Ilahi, tetapi kebanyakan manusia menolaknya, sehingga adzab Allah diturunkan kepada mereka.
Apabila orang-orang yang khianat dipercaya untuk memegang urusan yang mengakibatkan kerugian dan kerusakan besar bagi suatu bangsa.
Apabila orang benar didustakan dan orang dusta dibenarkan, akibat banyaknya kolusi dan nepotisme yang negatif.
Apabila terjadi putusnya hubungan sedarah, karena manusia lebih mementingkan hubungan yang seide dan serasi.
Apabila orang-orang munafiq sudah menjadi pemimpin daerah, suatu bangsa atau golongan.
Apabila pasar-pasar dipimpin orang-orang jahat.
Apabila kaum mukmin di suatu daerah atau suku sudah direndahkan dan dihinakan.
Apabila prajurit suatu bangsa diberi pakaian uniform yang indah, tetapi hati mereka penakut.
Apabila ada kaum laki-laki merasa cukup hidup dengan laki-laki dan ada kaum perempuan merasa cukup hidup bersama kaum perempuan.
Apabila masjid-masjid dijaga dan mimbar-mimbar ditinggikan.
Apabila banyak manusia yang membuat rekayasa untuk mendapatkan kemenangan politik dengan mendirikan bangunan-bangunan lalu mereka hancurkan.
Apabila banyak kaum muslimin sudah menyenangi musik, artis-artis dan minuman yang memabukkan yang menyebabkan iman dan akhlaq mereka rusak dan berubah seperti binatang.
Apabila banyak orang-orang yang mudah menghina, mengumpat, memfitnah dan memprovokasi untuk mengadu sesama bangsa atau golongan.
Apabila banyak anak-anak lahir akibat perbuatan zina.


As-Sa’ah tidak akan terjadi sampai zaman itu menjadi saling berdekatan; lalu satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu Jum‘at dan satu Jum‘at seperti satu hari dan satu hari seperti satu jam dan satu jam seperti


PENGUASA MANUSIA BERWATAK BINATANG BUAS (03)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَيَكُوْنَ الشَّهْرُ كَالجُمُعَةِ وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُوْنَ الْيَومُ كَالسَّاعَةِ وتَكُونَ السَّاعَةُ كَالضَّرَمَةِ بِالنَّارِ
As-Sa’ah tidak akan terjadi sampai zaman itu menjadi saling berdekatan; lalu satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu Jum‘at dan satu Jum‘at seperti satu hari dan satu hari seperti satu jam dan satu jam seperti lamanya panas batu kerikil terjilat api ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, At-Turmudzi dari Anas radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38395 )
إِذَا قَرُبَ السَّاعَةُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَيَكُوْنُ الشَّهْرُ كَالجُمُعَةِ وَالْجُمُعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ بِالنَّارِ
Apabila As-Sa’ah sudah dekat, maka zaman saling berdekatan, sehingga satu tahun menjadi seperti satu bulan, satu bulan menjadi seperti satu Jum‘ah dan satu Jum‘ah menjadi seperti lama waktu terbakarnya daun kurma dalam api ( Abu Ya’la dalam Musnadnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38503 )

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَيَكُوْنَ الشَّهْرُ كَالجُمُعَةِ وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُوْنَ الْيَومُ كَالسَّاعَةِ وتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ
As-Sa’ah tidak akan terjadi sehingga zaman itu berdekatan, maka satu tahun menjadi seperti satu bulan, dan satu bulan menjadi seperti satu Jum‘ah, dan satu Jum‘ah menjadi seperti satu hari, dan satu hari menjadi seperti satu jam, dan satu jam menjadi seperti lama waktu terbakarnya daun pohon kurma ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Abu Nu’aim dalam Al-Khilyah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38504 )
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِه ! لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تُكَلِّمَ السِّبَاعُ اْلإِنْسَ ، وَحَتَّى يُكَلِّمَ الرَّجُلَ عَذَبَةُ سَوْطِهِ وَشِرَاكُ نَعْلِه، وَيُخْبِرُه فَخْذُه بِمَا يُحَدِّثُ أَهْلَه بَعْدَه
Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya! As-Sa’ah tidak akan terjadi sampai binatang buas berbicara kepada seorang laki-laki, dan sampai kotoran cambuknya dan tali sandalnya berbicara kepada manusia, dan pahanya menceritakan kepadanya sebab apa yang terjadi sesudahnya pada keluarganya ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, At-Turmudzi, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ibnu Hibban dalam Shahihnya dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38437 )



لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِى اْلأَرْضِ : اَللهُ اَللهُ، وَحَتَّى تَمُرَّ الْمَرْأَةُ بِقِطْعَةِ النَّعْلِ فَتَقُولُ: قَدْ كَانَ لِهذِهِ رَجُلٌ مَرَّةً وَحَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ قَيَّمَ خَمْسِيْنَ امْرَأَةً ، وَحَتَّى تَمْطُرَ السَّمَآءُ وَلاَ تَنْبُتُ اْلأَرْضُ
Sa’ah tidak akan terjadi, sehingga di bumi tidak diucapkan “Allah, Allah”. Dan sehingga seorang wanita berjalan dengan sepotong sandal, lalu ia berkata: Sungguh pada satu waktu ada seorang laki-laki untuk wanita ini sehingga seorang laki-laki menjadi suami lima puluh orang perempuan. Dan sehingga langit menurunkan hujan, tetapi bumi tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ( Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Anas radhallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV /38572 )

Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Allah; dan tidak ada yang mengetahui waktunya, kecuali Dia. Tetapi aku akan menceritakan kepada kalian tentang syarat-syaratnya dan apa yang ada di antaranya. Ingatlah ! Sesungguhnya

FITNAH DAN PEPERANGAN YANG DISULUT BANGSA ABESSINIA (02)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq



لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ وَلاَ يَجْلِيْهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ وَلكِنْ سَأُحَدِّثُكُمْ بِمَشَارِيْطِهَا وَمَا بَيْنَ يَدَيْهَا، أَلاَ ! إِنَّ بَيْنَ يَدَيْهَا فِتَنًا وَهَرْجًا ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الْهَرْجُ ؟ قَالَ : هُوَ بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ الْقَتْلُ ، وَأَنْ يُلْقِيَ بَيْنَ النَّاسِ التَّنَاكُرُ فَلاَ يَعْرِفُ أَحَدٌ وَتَحُفُّ قُلُوْبَ النَّاسِ ، وَيَبْقَى رِجْرِجْةٌ لاَ تَعْرِفُ مَعْرُوْفًا وَلاَ تُنْكِرُ مُنْكَرًا
Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Allah; dan tidak ada yang mengetahui waktunya, kecuali Dia. Tetapi aku akan menceritakan kepada kalian tentang syarat-syaratnya dan apa yang ada di antaranya. Ingatlah ! Sesungguhnya di antranya ada fitnah-fitnah dan kekacauan. Ditanyakan; Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kekacauan itu ? Kekacauan itu adalah peperangan yang disebabkan lisan Habsyi, dan jika pura-pura bodoh terjadi di kalangan manusia, lalu tidak seorang pun mengetahuinya, dan itu mengelilingi hati manusia dan kehinaan menetap yang tidak mengenal kebaikan dan tidak mengenal kemungkaran ( Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Ibnu Mardawaih dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38543 )

عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ لاَ يَجْلِي لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ وَلكِنْ سَأُخْبِرُكُمْ بِمَشَارِيْطِهَا وَ يَكُوْنُ بَيْنَ يَدَيْهَا : إِنَّ بَيْنَ يَدَيْهَا فِتْنَةً وَهَرْجًا ، قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! اَلْفِتْنَةُ قَدْ عَرَفْنَاهَا فَالْهَرْجُ مَا هُوَ ؟ قَالَ : بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ الْقَتْلُ ، وَيُلْقَي بَيْنَ النَّاسِ التَّنَاكُرُ فَلاَ يَكَادُ أَحَدٌ أَنْ يَعْرِفَ أَحَدًا
Ilmunya As-Sa’ah berada di sisi Tuhanku, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia. Akan tetapi aku akan menceritakan syarat-syaratnya kepada kalian dan apa yang ada di sekitarnya, yaitu sesungguhnya di sekitarnya ada fitnah dan kekacauan. Mereka berkata: Wahai Rasulullah! Fitnah itu telah kami mengerti, lalu apakah yang dimaksud dengan kekacauan itu? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Disebabkan lisan Habsyi terjadilah peperangan, dan sikap berpura-pura terjadi di kalangan mereka, sehingga hampir seorang tidak mengenal seorang lainnya ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Sa’id bin Manshur dalam Sunannya dari Khudzaifah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang As-Sa’ah, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan Hadits tersebut dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38544 )

بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Di sekitar As-Sa’ah itu adalah fitnah-fitnah seperti sepotong malam yang gelap ( Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Anas radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV / 38446 )



Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menubuatkan datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sa’ah atau As-Sa’ah menurut Al-Quran tidak selalu berarti Qiyamat; kadang-kadang Sa’ah itu digunakan untuk arti kehancuran suatu kaum yang durhaka di dunia ini; dan terkadang juga digunakan sebagai wujud siksaan yang sempurna di alam Akhirat nanti. Dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka di dunia ini, baik mereka yang mengaku sebagai kaum muslimin maupun mereka yang bukan muslimin. Di antara tanda dan syarat datangnya Sa’ah itu adalah:

1. Apabila wanita budak melahirkan anak dari tuan majikannya.
Nampaknya nubuatan ini sudah terjadi zaman sekarang ini. Sebab banyak berita dari surat kabar, majalah dan omongan banyak orang bahwa banyak wanita yang melahirkan anak dari tuan majikannya, terutama para wanita tenaga kerja, baik di negara yang non muslimin dan negara yang muslimin.

2. Apabila orang telanjang yang tidak beralas-kaki menjadi pemimpin umat manusia.
Mungkin yang dimaksud orang telanjang yang tidak beralas-kaki adalah orang yang tidak mempunyai rasa malu karena tidak berdiri di atas landasan iman yang benar. Jika makna ini yang dimaksud, berarti nubuat itu sudah terwujud, sebab sejak puluhan tahun yang lalu sudah banyak pemimpin manusia, baik di tingkat daerah maupun nasional, baik di negara yang banyak musliminnya, maupun yang non muslimin yang tidak malu-malu berbuat sekandal maksiat, korupsi dan kolusi dalam melakukan tindak kejahatan.

3.Apabila para pemimpin kaum muslimin saling berlomba membanggakan rumah mereka. Nubuat ini pun, dewasa ini sudah bisa kita saksikan di mana-mana. Seakan-akan nilai duniawai sudah dijadikan sebagai ukuran kemuliaan dan kesuksesan hidup seseorang. Sehingga sudah menjadi kebiasaan manusia, jika bertemu kawan lamanya yang ditanyakan dan yang diceritakan adalah masalah pekerjaan, jabatan, rumah, kendaraan dll.

4. Apabila sudah banyak fitnah dan kekacauan.
Nubuat ini pun sudah sering kita saksikan dalam kehidupan umat dewasa ini, baik mereka yang non muslimin maupun yang mengaku muslimin. Ujung-jung dari fitnah dan kekacauan itu adalah kebencian, kesalah fahaman, permusuhan, pengrusakan dan perang saudara yang hanya merugikan mereka sendiri.

5. Apabila kehinaan menimpah mereka yang mengaku kaum muslimin yang tidak mengenal kebaikan dan kemungkaran.
Nubuat ini pun nampaknya sudah terjadi. Sebab kenyataan banyak kaum muslimin yang fanatis golongan dengan menganggap golongannya saja yang benar, sedang golongan lainnya salah tanpa dilandasi oleh suatu penelitian. Mereka tidak kritis dan tidak mempunyai keinginan untuk mengenal pihak lain. Akibatnya kebenran dan hikmah yang ada pada golongan lain tidak mereka ketahui, malah dianggap salah dan sesat menyesatkan. Selanjutnya mereka menjadi bodoh dari kebenaran. Hidupnya terjajah dan mudah digoncang bangsa-bangsa lain.

6. Sikap hidup berpura-pura sudah mewarnai banyak pemimpin.
Nubuat ini pun nampaknya sudah terjadi. Buktinya banyak para peminpin yang mengerti kebenaran dan keadilan, tetapi dalam praktik mereka menghindari kebenaran, kejujuran dan ketidak adilan, hanya bertujuan untuk memperkuat kedudukan atau takut menanggung resiko duniawi.

-----oo0oo-----

s-Sa‘ah dalam bahasa Arab termasuk isim musytarak yaitu isim yang mempunyai banyak makna. Di antaranya rusak, binasa, sekarang, jam atau satu jam dalam arti 60 menit. Alquran sering menggunakan kata itu dalam makna siksaan yang

PARA PEMIMPIN TIDAK BERMALU DAN BANYAK WANITA BUDAK MELAHIRKAN TUANNYA (01)
Terjemah dan komentar
Oleh : Abdul Rozaq


As-Sa‘ah dalam bahasa Arab termasuk isim musytarak yaitu isim yang mempunyai banyak makna. Di antaranya rusak, binasa, sekarang, jam atau satu jam dalam arti 60 menit. Alquran sering menggunakan kata itu dalam makna siksaan yang lebih dahsyat daripada adzab (9:40; 19:76) sehingga menimbulkan kehancuran suatu bangsa atau suku bangsa. Sa‘at dalam makna inilah yang dimaksudkan Nabi kita Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa Hadits.

Wanita dan Pemimpin adalah suatu kenikmatan yang dilaruniakan kepada satu kaum atau bangsa, karena berkat wanita salehah hati seorang suami akan mendapat ketentraman (7:190; 30:22) dan berkat Pemimpin yang menegakkan amanat dan bersikap adil kehidupan suatu bangsa dan masyarakat akan mendapatkan keamanan, kemakmuran dan keberkatan (4:59), sebaliknya jika wanita tidak menjaga kesuciannya akan mendatangkan bencana keluarga dan bangsanya, demikian pula Pemimpin yang tidak menegakkan tongkat kepemimpinan yang diamanatkan Allah melalui rakyatnya akan mendatangkan kekacauan, perang saudara dan bencana yang menyebabkan kehancuran kekayaan, bangsa dan peradabannya. Guna lebih jelas, kita renungkan Hadits Nabi kita Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:


مَا الْمَسْؤُلُ عَنْهَا – يَعْنِي السَّاعَةَ – بِأَعْلَمَ مِنَ السَّآئِلِ ، وَسَاُخْبِرُكُمْ عَنْ أَشْرَاطِهَا : إِذَا وَلَدَتِ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا ، وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُؤُسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا ، وَإِذَا تَطَاوَلُوْا فِى الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، فِى خَمْسٍ مِنَ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ "إِنَّ اللهَ عِنْدَه لَعِلْمُ السَّاعَةِ- الأيَةُ

Orang yang ditanya tentang itu, yakni As-Sa’ah itu tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya; dan aku shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberitahukan kepadamu tentang syarat-syaratnya, yaitu: Apabila seorang budak perempuan telah melahirkan tuannya. Itulah di antara syarat Sya’ah. Dan apabila orang-orang yang telanjang yang tidak beralas kaki menjadi para pemimpin manusia. Itulah di antara syarat-syaratnya. Dan apabila mereka saling membanggakan bangunan-bangunan (rumah-rumah). Itulah di antara syaratnya. Ada lima perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahui kecuali Allah “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu As-Sa’ah itu Al-Ayah.” (Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, ِAL-Bukhari,‭ ‬Muslim,‭ ‬Ibnu Majah dari Abu Hurairah‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu,‭ ‬Muslim,‭ ‬Abu Daud dan An-Nasai dari Umar‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu,‭ ‬An-Nasai dari Abu Hurairah‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu‭ ‬dan Abi Dzar‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu‭ ‬bersama-sama dan Kanzul-Umal,‭ ‬Juz‭ ‬14‭ ‬/‭ ‬38393‭ )

مَا الْمَسْؤُلُ عَنْهَا – يَعْنِي السَّاعَةَ – بِأَعْلَمَ مِنَ السَّآئِلِ ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا : إِذَا وَلَدَتِ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا ، وَإِذَا كَانَتِ الْحُفَاةُ الْعُرَاةُ رُؤُسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا ، وَإِذَا تَطَاوَلَ‏‭ ‮ ‬رُعَاةٌ‮ ‬الْبُهْمِ‮ ‬فِى‮ ‬الْبُنْيَانِ‮ ‬فَذَاكَ‮ ‬مِنْ‮ ‬أَشْرَاطِهَا،‮ ‬فِى‮ ‬خَمْسٍ‮ ‬مِنَ‮ ‬الْغَيْبِ‮ ‬لاَ‮ ‬يَعْلَمُهُنَّ‮ ‬إِلاَّ‮ ‬اللهُ‮ "‬إِنَّ‮ ‬اللهَ‮ ‬عِنْدَه‮ ‬عِلْمُ‮ ‬السَّاعَةِ-‮ ‬الأيَةُ‮

Orang yang ditanya tentang Sa’ah itu tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya. Dan aku akan beritahukan kepadamu tentang syarat-syaratnya, yaitu: Apabila seorang wanita budak telah melahirkan tuannya. Itulah di antara syaratnya. Dan apabila orang-orang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimimpin manusia. Itulah di antara syarat-syaratnya. Dan apabila para pemimpin orang-orang bisu (رُعَاةُ‮ ‬الْبَهَمِ‭ ‬para penggembala kambing atau sapi‭) ‬menyombongkan‭ ‬bangunan-bangunan‭ ‬istana.‭ ‬Itulah di antara syarat-syaratnya.‭ ‬Tentang lima yang ghaib tidak ada yang mengetahui kecuali Allah‭ “‬Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah ilmu tentang Sa’ah itu‭” ‬Al-Ayah.‭ ( ‬Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya,‭ ‬Al-Bukhari,‭ ‬Muslim,‭ ‬Ibnu Majah dari Abu Hurairah‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu‭ ‬bahwa sesungguhnya Rasulullah‭ ‬shallallahu‭ ‘‬alaihi wa sallam‭ ‬telah ditanya:‭ ‬Kapan‭ ‬As-Sa‭‘‬ah‭ (‬terjadi‭) ? ‬Beliau menjawab,‭ ‬lalu menyebutkan Hadits tersebut‭ ( ‬Muslim,‭ ‬Abu Daud,‭ ‬An-Nasai dari Umar‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu,‭ ‬An-Nasai dari Abu Hurairah‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu‭ ‬dan Abu Dzar bersama-sama,‭ ‬Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah‭ ‬dari Anas‭ ‬radhiallahu‭ ‘‬anhu‭ ‬dan Kanzul-Umal,‭ ‬Juz‭ ‬14‭ ‬/‭ ‬38542‭ )

إِذَا رَأَيْتَ اْلأَمَةَ قَدْ وَلَدَتْ رَبَّتَهَا وَرَأَيْتَ أَصْحَابَ الْبُنْيَانِ يَتَطَاوَلُوْنَ بِالْبُنْيَانِ وَرَأَيْتَ الْحُفَّاةَ الْجِيَاعَ الْعَالَةَ كَانُوْا رُؤُسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ مَعَالِمِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا
Apabila kamu melihat seorang budak perempuan telah melahirkan tuannya dan engkau telah melihat pemilik-pemilik bangunan saling membanggakan bangunan-bangunan itu dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki kelaparan, miskin menjadi pemimpin-pemimpin manusia. Itulah di antara tanda-tanda Sa‘ah dan syarat-syaratnya ( Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz 14 / 38394 )

Komentar:
Hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menubuatkan datangnya Sa’ah kehancuran kaum yang durhaka kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sa’ah atau As-Sa’ah menurut Al-Quran tidak selalu berarti Qiyamat; kadang-kadang Sa’ah itu digunakan untuk arti kehancuran suatu kaum yang durhaka di dunia ini; dan terkadang juga digunakan sebagai wujud siksaan yang sempurna di alam Akhirat nanti. Sa’ah dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, mengisyaratkan kepada kehancuran kaum yang durhaka di dunia ini, baik mereka yang mengaku sebagai kaum muslimin maupun mereka yang bukan muslimin. Di antara tanda dan syarat datangnya Sa’ah itu adalah:

Akan terjadi satu kaum dari umatku mengafiri Allah dan Alquran, sedang mereka tidak merasa sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani kafir; mereka mengakui sebagian qadar dan mengafiri sebagiannya, seraya berkata: Yang baik dari Allah dan yang buruk dari Iblis, lalu mereka membaca Kitab Allah atas persoalan itu dan mengafiri Alquran sesudah iman dan makrifat, lalu umatku dari sebagian

SEBAGIAN KAUM MUSLIMIN TIDAK MERASA MENJADI KAFIR
Terjemah dan komentar
Oleh : Abd. Rozaq

يَكُوْنُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ يَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَبِالْقُرْآنِ وَهُمْ لاَ يَشْعُرُوْنَ كَمَا كَفَرَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى، يُقِرُّوْنَ بِبَعْضِ الْقَدَرِ وَيَكْفُرُوْنَ بِبَعْضِهِ، يَقُوْلُوْنَ : اَلْخَيْرُ مِنَ اللهِ وَالشَّرُّ مِنْ إِبْلِيْسَ، فَيَقْرَؤُنَ عَلَى ذَلِكَ كِتَابَ اللهِ وَيَكْفُرُوْنَ بِالْقُرْآنِ بَعْدَ الْإِيْمَانِ وَالْمَعْرِفَةِ، فَمَا تَلَقَّى أُمَّتِيْ مِنْهُمْ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ وَالْجِدَالِ ، أُوْلئِكَ زَنَادِقَةُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ ، فِى زَمَانِهِمْ يَكُوْنُ ظُلْمُ السُّلْطَانِ فَيَّالُهُمْ مِنْ ظُلْمٍ وَحِيْفٍ وَأَثْرَةٍ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ طَاعُوْنًا فَيُفْنِي عَامَّتَهُمْ ، ثُمَّ يَكُوْنُ الْخَسَفُ فَمَا أَقَلَّ مَنْ يَنْجُوْ مِنْهُمْ ، اَلْمُؤْمِنُ يَوْمَئِذٍ قَلِيْلٌ فَرَحُهُ، شَدِيْدٌ غَمُّهُ، ثُمَّ يَكُوْنُ الْمَسْخُ فَيَمْسَخُ اللهُ عَامَّةَ أُوْلَئِكَ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ، ثُمَّ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ عَلَى أَثَرِ ذَلِكَ قَرِيْبًا
Akan terjadi satu kaum dari umatku mengafiri Allah dan Alquran, sedang mereka tidak merasa sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani kafir; mereka mengakui sebagian qadar dan mengafiri sebagiannya, seraya berkata: Yang baik dari Allah dan yang buruk dari Iblis, lalu mereka membaca Kitab Allah atas persoalan itu dan mengafiri Alquran sesudah iman dan makrifat, lalu umatku dari sebagian mereka menemui permusuhan, kebencian dan perdebatan, mereka itu adalah orang-orang yang berpura-pura iman (atheist) dalam umat ini, di zaman mereka akan terjadi kezhaliman Penguasa. Penguasa mereka zhalim, sewenang-wenang dan monopoli, kemudian Allah membangkitkan taun, lalu itu melenyapkan awam mereka; kemudian akan terjadi kekurangan maka sangat sedikit orang yang selamat di antara mereka. Seorang mukmin pada hari itu sedikit kesenangannya dan sangat berat kesedihannya, kemudian akan terjadi perubahan (penitisan), lalu Allah merubah awam mereka itu sebagai kera-kera dan babi-babi, kemudian keluarlah Dajjal dalam waktu dekat menguasai kekayaan mereka (Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Baghawi dari Rafi’ bin Khudaij dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38828)‮

Komentar:


Jika diceriterakan kepadamu tentang Haditsku yang sesuai dengan kebenaran, maka ambillah itu

MENSIKAPI HADITS RASULULLAH SAW
Terjemah dan komentar
Oleh : Abd. Rozaq


إِذْ حُدِّثْتُمْ عَنِّي بِحَدِيْثٍ يُوَافِقُ الْحَقَّ فَخُذُوْهُ
Jika diceriterakan kepadamu tentang Haditsku yang sesuai dengan kebenaran, maka ambillah itu(Kanzul-Umal, Juz X/29212)
أَلاَ إِنَّ رَحْيَ اْلإِسْلاَمِ دَائِرَةٌ قِيْلَ فَكَيْفَ نَصْنَعُ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ أَعْرِضُوْا حَدِيْثِيْ عَلَى الْكِتَابِ فَمَا وَافَقَهُ فَهُوَ مِنِّيْ وَأَنَا قُلْتُهُ
Ingatlah, sesungguhnya kepala Islam itu adalah bulatan, ditanyakan: Maka bagaimana kita berbuat wahai Rasulullah, beliau menjawab: Bentangkanlah Haditsku kepada Kitab itu, maka jika itu sesuai berarti itu dariku dan aku telah mengatakannya(Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Samuwaih dari Tsauban dan Kanzul-Umal, Juz I/992)

سُئِلَتِ الْيَهُوْدُ عَنْ مُوْسَى فَأَكْثَرُوْا فِيْهِ وَزَادُوْا وَنَقَصُوْا حَتَّى كَفَرُوْا وَإِنَّهُ سَتَفْشُوْ عَنِّيْ أَحَادِيْثُ فَمَا أَتَاكُمْ مِنْ حَدِيْثِيْ فَاقْرَؤُوْا كِتَابَ اللهِ وَاعْتَبَرُوْهُ فَمَا وَافَقَ كِتَابَ اللهِ فَأَنَا قُلْتُهُ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ كِتَابَ اللهِ فَلَمْ أَقُلْهُ
Kaum Yahudi ditanya tentang Musa, lalu mereka memperbanyak tentangnya, menambah dan mengurangi hingga mereka kafir; sungguh akan menyebar Hadits-hadits dariku, maka apapun Haditsku yang sampai kepadamu, bacalah Kitab Allah dan ambilah pelajarannya; apa saja yang sesuai dengan Kitab Allah, berarti aku telah mengatakannya, tapi jika tidak sesuai dengan Kitab Allah, berarti aku tidak mengatakannya (Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ibnu Umar ra dan Kanzul-Umal, Juz I/993)
سَتَكُوْنُ عَنِّي ْ رُوَّاةٌ يَرْوُوْنَ الْحَدِيْثَ فَأَعْرِضُوْهُ عَلَى الْقُرْآنِ فَإِنْ وَافَقَ الْقُرْآنَ فَخُذُوْهَا وَإِلاَّ فَدَعُوْهَا
Akan ada orang-orang yang meriwayatkan Hadits dariku, maka bentangkanlah itu pada Alquran, jika itu sesuai dengan Alquran, maka ambillah itu, dan jika tidak sesuai, maka tinggalkanlah itu (Ibnu Asakir dari Ali ra dan Kanzul-Umal, Juz I/994)
أَعْرِضُوْا حَدِيْثِيْ عَلَى كِتَابِ اللهِ فَإِنْ وَافَقَهُ فَهُوَ مِنِّيْ وَأَنَا قُلْتُهُ
Bentangkanlah Haditsku kepada Kitab Allah, maka jika ia sesuai dengannya berarti itu dariku dan aku menyabdakannya (Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Tsauban dan Kanzul-Umal, Juz I/907)





GENDER DALAM ISLAM
Terjemah dan komentar
Oleh : Abd. Rozaq


عَنْ أَبِيْ نَضْرَةَ قَالَ: حَدَّثَنِيْ مَنْ شَهِدَ خُطْبَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنَى فِى وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ وَهُوَ عَلَى بَعِيْرٍ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ أَنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ أَنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، أَلاَ لاَ فَضْلَ لأَِسْوَدَ عَلَ أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى ، أَلاَ قَدْ بَلَغْتُ؟ قَالُوْا : نَعَمْ، قَالَ: لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ
(Ibnu An-Najjar dan Kanzul-Umal, Juz III/8502)



Manusia merupakan ciptaan Allah Ta’ala yang paling baik (95:5) dan diberi potensi alam yang sangat lengkap (76:3), sehingga dengan itu manusia mampu berbuat seperti makhluq lain yang ada di alam, baik yang

EKSPRESI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM KETIKATAKBIR
Terjemah dan komentar
Oleh : Abd. Rozaq


Manusia merupakan ciptaan Allah Ta’ala yang paling baik (95:5) dan diberi potensi alam yang sangat lengkap (76:3), sehingga dengan itu manusia mampu berbuat seperti makhluq lain yang ada di alam, baik yang hidup di darat, udara maupun di dalam air. Bahkan ia diciptakan sesuai dengan fithrah Allah Ta’ala (30:31). Karena itu Manusia yang beriman diperintah supaya meniru akhlaq Allah Ta’ala (2:139), maksudnya meniru sifat-sifat tasybihiyah-Nya, seperti sifat-sifat-Nya yang tercantum dalam surat Al-Fatichah, Robbil-‘alamin, Ar-Rachman, Ar-Rachim dan Maliki yaimiddin (1:2-4), bukan sifat-sifat tanzihiyah-Nya seperti yang tercantum dalam surat Al-Ikhlash, Achad, Ash-Shamad, Lam yalid wa lam yulad dan walam yakullahu kufuwan ahad (112:2-5). Namun manusia diciptakan dalam keadaan lemah (4:29), agar ia senantiasa membutuhkan pertolonga-Nya, selalu bersikap merendah dan tidak sombong (31:19-20) dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan sholat dan berdoa agar berkenan memberikan pertolongan (17:79-81).

Berdoa yang paling baik adalah berdoa dalam sholat, karena sholat itu sebenarnya berarti doa. Setiap posisi sholat menunjukkan sikap merendah dan siap menunaikan perintah dengan tulus, karena itu sholat dimulai dengan takbir, yaitu ucapan “Allahu Akbar” artinya Allah Maha-besar. Maka dari itu dengan membaca takbir seseorang membayangkan kebesaran Allah Ta’ala yang Maha tak terhingga dan merasa dirinya sangat kecil dan lemah yang hidupnya senantiasa tergantung kepada kemurahan dan pertolongan Tuhannya.

Bagaimanakah Rasulullah saw mengekpresikan anggota badannya sewaktu membaca takbir. Di bawah ini kami kutipkan beberapa Hadits beliau saw:


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فِيْ نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ جَآءَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ فَصَلَّى ثُمَّ جَآءَ فَسَلَّمَ فَقَالَ وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَقَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ أَوْ فِيْ الَّتِيْ بَعْدَهَا عَلِّمْنِيْ يَارَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ إِذاَ قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَآئِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَفِيْ رِوَايَةٍ ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَآئِمًا ثُمَّ افْعَلْ ذَالِكَ فِي صَلَوَاتِكَ كُلِّهَا
“Dari Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki memasuki masjid sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di sudut masjid itu, lalu ia sholat, kemudian ia datang, maka ia mengucapkan “salam” kepada beliau, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya “wa ‘alaikas salam, kembalilah dan kerjakan sholat, karena engkau belum sholat”, maka ia kembali lalu sholat, kemudian ia datang, lalu menyampaikan salam, maka beliau menjawab: “wa ‘alaikas salam, kembalilah dan kerjakan sholat, karena engkau belum sholat!”, lalu ia berkata kali yang ketiga atau kali yang sesudah itu: “Ajarkanlah kepadaku wahai RosulAllah, maka beliau bersabda: “Apabila engkau hendak sholat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblah (Ka’bah), lalu bertakbirlah, kemudian bacalah sebagian Alquran yang mudah, kemudian ruku’lah hingga engkau tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah hingga engkau tegak berdiri kemudian bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujud, kemudian angkatlah hingga engkau tenang dalam duduk, kemudian sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Dalam satu riwayat, kemudian angkatlah hingga engkau tegak dalam berdiri, kemudian kerjakan demikian itu dalam sholatmu seluruhnya“ (HR.Mutafaqqun ‘alaih dan Misykatu Syarif, Juz I/734)

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْكَعُ ثُمَّ يَقُوْلُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِيْنَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَهْوِيْ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يَفْعَلُ ذَالِكَ فِي الصَّلاَةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا و يُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ مِنَ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوْسِ
Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Apabila Rasulullah akan menegakkan sholat beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’, kemudian mengucapkan “Sami’Allahu liman chamidah” ketika mengangkat tulang punggungnya dari ruku’, kemudian mengucapkan “Robbana lakal chamdu” sedang beliau dalam keadaan berdiri, kemudian bertakbir ketika merebahkan diri, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika bersujud kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya kemudian mengerjakan demikian itu dalam sholat seluruhnya beliau menyelesaikannya dan beliau bertakbir ketika berdiri dari dua roka’at setelah duduk” (HR Bukhori dan Muslim dan Misykatu Syarif, Juz I/743)

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيْرِ وَالْقِرَآءَةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dan dari Aisyah RodhiAllahu ‘anha berkata: Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam membuka sholat dengan takbir dan bacaan dengan Al-Chamdu lillahi Robbil-‘Alamin” (HR.Muslim dan Misykatu Syarif, Juz I/735)

وَعَنْ أَبِيْ حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ فِيْ نَفَرٍ مِّنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحْفَظُكُمْ لِصَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَآءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُوْدَ‏‭ ‬كُلُّ‮ ‬فَقَارٍ‮ ‬مَّكَانَهُ‮ ‬فَإِذَا‮ ‬سَجَدَ‮ ‬وَضَعَ‮ ‬يَدَيْهِ‮ ‬غَيْرَ‮ ‬مُفْتَرِشٍ‮ ‬وَّلاَ‮ ‬قَابِضِهِمَا‮ ‬وَاسْتَقْبَلَ‮ ‬بِأَطْرَافِ‮ ‬أَصَابِعِ‮ ‬رِجْلَيْهِ‮ ‬الْقِبْلَةَ‮ ‬فَإِذَا‮ ‬جَلَسَ‮ ‬فِيْ‮ ‬الرَّكْعَتَيْنِ‮ ‬جَلَسَ‮ ‬عَلَى‮ ‬رِجْلِهِ‮ ‬الْيُسْرَى‮ ‬وَنَصَبَ‮ ‬الْيُمْنَى‮ ‬فَإِذَا‮ ‬جَلَسَ‮ ‬فِى‮ ‬الرَّكْعَةِ‮ ‬اْلاَخِرَةِ‮ ‬قََّدَّمَ‮ ‬رِجْلَهُ‮ ‬الْيُسْرَى‮ ‬وَنَصَبَ‮ ‬اْلاُخْرَى‮ ‬وَقَعَدَ‮ ‬عَلَى‮ ‬مَقْعَدَتِِهِ
“Dan dari Chumaid As-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata di kalangan satu kelompok sahabat Rosulillahi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam saya menjagamu untuk sholat Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam yang telah saya lihat :”Apabila beliau bertakbir, beliau menjadikan kedua tangannya di depan kedua pundaknya, dan apabila beliau ruku’, beliau menempatkan kedua tangannya pada kedua lututnya, kemudian beliau membengkokkan punggungnya, maka apabila beliau mengangkat kepalanya beliau menyamakan sehingga semua tulang punggung kembali kepada tempatnya, lalu apabila beliau bersujud beliau meletakkan kedua tangannya‮ ‬tanpa membentangkan dan tidak menggenggam keduanya dan beliau menghadapkan kiblat ujung jari-jari kakinya,‭ ‬lalu apabila beliau duduk dalam dua roka’at beliau duduk diatas kakinya yang kiri dan menegakkan yang kanan,‭ ‬lalu apabila‭ ‬beliau duduk pada roka’at akhir beliau mendahulukan kaki yang kiri dan menegakkan yang lain dan duduk di atas tempat duduknya‭” (‬HR Bukhari dan Misykatu Syarif,‭ ‬Juz I/736‭)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوْعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَهُمَا كَذَالِكَ وَقَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُوْدِ
“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setentang kedua bahunya, ketika beliau memulai sholat dan ketika beliau takbir untuk ruku’ dan ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau mengangkat keduanya sedemikian juga seraya mengucapkan “Sami’Allahu liman chamidah Robbana lakal chamdu” dan beliau tidak melakukan demikian dalam sujud” (HR Bukhori dan Muslim dan Misykatu Syarif, Juz I/737)

وَعَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَالِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan dari Nafi’ Radhiyallahu ‘anhu bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu ketika memasuki sholat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya dan ketika beliau mengucapkan “Sami’Allahu liman chamidah” beliau mengangkat kedua tangannya dan apabila beliau berdiri dari dua roka’at beliau mengangkat kedua tangannya dan Ibnu Umar mengangkat itu karena Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam (HR Bukhori dan Misykatu Syarif, Juz I/738)


Komentar:
Dari beberapa Hadits Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam di atas dapat kita ambil beberapa pelajaran sebagai berikut:

Sholat adalah ibadah dalam Islam yang menunjukkan kebesaran Allah Ta’ala dan menunjukkan betapa kecil dan rendahnya manusia. Karena itu seorang hamba yang menegakkan sholat diperintah supaya mengucapkan takbir dalam setiap pergantian rukun shalat agar hati, ucapan dan gerakan badannya senantiasa menunjukkan sikap yang merendah dan sopan di hadapan Allah Ta’al.

Kebesaran Allah Ta’ala itu dapat diketahui dan dibuktikan oleh manusia dengan menyaksikan atau mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya pada setiap makhluq dari segala aspeknya. Berkat mempelajari alam itu Allah akan memberikan ilmu yang menumbuhkan kesan dalam pikiran dan hatinya serta pengakuan akan kebesaran Allah Ta’ala. Karena itu Allah Ta’ala memerintahkan agar manusia memaha- besarkan Allah Ta’ala sebagai Tuhannya.


Allah Ta’ala berfirman:
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
Dan kepada Tuhan dikau bertakbirlah‮ ‭(‬agungkanlah‭) (‬Al-Mudatsir,‭ ‬74:4‭)

Struktur ayat di atas sangat ajaib, karena susunan huruf-hurufnya jika dibaca dari depan maupun dari belakang bunyinya tetap sama. Coba perhatikan‮ ‭ ‬bacaan ayat di atas setelah diurai huruf-hurufnya secara terpisah berikut ini:
رب ب ك ف ك ب ب ر‏‭
Ketika orang akan memulai sholat, ia harus membaca takbir yang dalam istilah syariat Islam dinamakan “Takbirotul-ichrom”. Sedang Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam dalam mengekpresikan kedua tangannya sewaktu membaca tabir ada dua macam, yaitu mengangkat kedua tangan dan tidak mengangkat kedua tangannya. Menurut kesaksian Abu Hurairah dan Aisyah ketika beliau ShollAllahu ‘alaihi wa sallam bertakbir tanpa mengangkat kedua tangannya, sedang menurut kesaksian Chumaid As-Sa’idi, Ibnu Umar dan Nafi’ Radhiyallahu ‘anhum diwaktu dan di tempat yang lain disertai mengangkat kedua tangannya. Jadi kedua cara takbir itu sama-sama diajarkan dan dicontohkan oleh beliau ShollAllahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sehingga kita mendapatkan dua macam cara takbir beliau ShollAllahu ‘alaihi wa sallam lantaran riwayat para sahabat tersebut. Komentar Imam Mahdi ‘Alaihis salam terhadap dua macam cara Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam mengekpresikan takbir tersebut adalah sama-sama benarnya, karena kedua cara itu berdasarkan Hadits atau Sunnah Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam. Namun beliau ‘alaihis salam sendiri lebih banyak tanpa mengangkat kedua tangannya sewaktu takbir sebagaimana pernyataan sahabat beliau bernama Mian Abdulloh Sanauri berikut ini:

Mian Abdulloh Sanauri menceritakan kepada saya (Mirza Basyir Ahmad):
“Pada masa-masa awal saya sangat teguh pada pendirian saya. Dan saya sangat disiplin mengangkat kedua tangan ketika takbir serta mengucapkan ‘amin’ dengan suara keras. Dan setelah bertemu Hazrat Sahib pun saya masih terus menerapkan cara itu sampai beberapa lama. Setahun kemudian, suatu kali ketika saya sholat di belakang Hazrat Sahib, maka setelah sholat beliau sambil tersenyum bersabda kepada saya: ‘Mian Abdulloh, sekarang sudah banyak sekali pengalaman sunnah itu’. Hal itu isyarat yang tertuju pada pengangkatan kedua tangan.”

Mian Abdulloh mengatakan: “Sejak saat itu saya tidak lagi mengangkat kedua tangan ketika takbir, bahkan ‘amin’ juga tidak saya baca dengan keras lagi.”

Mian Abdulloh menerangkan: “Saya tidak pernah melihat Hazrat Sahib mengangkat kedua tangan ketika takbir, dan juga tidak pernah mendengar beliau mengucapkan ‘amin’ dengan suara keras. Dan tidak pernah saya dengar beliau membaca ‘Bismillah’ dengan suara keras.”

Saya (Mirza Basyir Ahmad) menjelaskan bahwa cara yang diterapkan oleh Hazrat Masih Mau’ud ‘Alaihis salam adalah seperti yang telah diterangkan Abdulloh tersebut. Namaun, kita orang-orang Ahmadi, ketika di zaman Hazrat Sahib maupun sesudah beliau, selalu menerapkan jalan yang tidak memaksakan salah satu di antara kedua hal itu. Sebagian ada yang mengucapkan ‘amin’ dengan suara keras, dan sebagian lagi tidak. Sebagian ada yang mengangkat kedua tangan, dan kebanyakan tidak berbuat demikian. Sebagian ada yang membaca ‘Bismillah’ dengan suara keras, dan kebanyakan tidak berbuat demikian. Dan Hazrat Sahib bersabda bahwa semua cara itu memang terbukti dari Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam. Namun, cara yang paling sering dilakukan oleh Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam adalah cara yang diamalkan oleh Hazrat Sahib (Siratul-Mahdi, Mirza Basyir Ahmad MA, Ahmadiyyah Kutub Khanah, Qadian, 1923, jilid I, halaman 143 – 144, riwayat no. 150, terjemahan Mukhlis Ilyas)

Dua macam gerakan tangan Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam dalam mengekpresikan bacaan Takbir itu membuktikan kebenaran pengakuan beliau sebagai Juru undang umat manusia untuk menikmati hidangan dari langit yang disebut Al-Maidah (5:115) dan beliau telah menjelaskan tentang Al-Maidah itu dalam beberapa Haditsnya yang cukup panjang. Setiap muslim dihimbau untuk mengikuti semua sunnahnya, namun beliau tidak menyalahkan sahabat yang hanya mengikuti sebagian saja sesuai dengan pilihannya dan kemampuannya. Ibarat kita menghadiri undangan yang diberi hidangan makan parasmanan, maka setiap orang yang hadir bebas mengambil semua macam makanan atau sebagiannya, sesuai dengan pilihan dan keadaan tubuhnya.

Kedua cara ekpresi takbir shalat Rasullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam adalah hazanah ilmu ruhani Islam yang harus dijaga, diamalkan dan disampaikan kepada kaum muslimin agar mereka mendapat kesempatan untuk mengikuti setiap ajaran Islam yang pernah dicontohkan beliau ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, di samping akan menambah luasnya wawasan ilmu ruhani Islam dan menghilangkan kesalahfahaman. Bahkan Masih Mau‘ud ‘alaihis salam menyatakan bahwa pengikut beliau adalah orang yang mengamalkan apa yang telah ditetapkan Al-Sunnah, Alquran dan para Sahabat yang mulia. Beliah as bersabda:
وَيَعْمَلُ بِكُلِّ مَا ثُبِتَ مِنَ السُّنَّةِ وَالْقُرْآنِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ الْكِرَامِ وَمَنْ تَرَكَ هَذِهِ الثَّلاَثَةَ فَقَدْ تَرَكَ نَفْسَهُ فِى النَّارِ

Dan mengamalkan setiap apa yang ditetapkan Sunnah, Alquran dan Ijma’ Sahabat yang mulia; dan siapa yang meninggalkan tiga hal ini, sungguh ia telah meninggalkan dirinya dalam Api Neraka (Ruhani Qhazain, Jilid XIX, Mawahibur-Rahman, hal. 315)



Menyimpan hazanah Islam adalah perbuatan yang dikutuk Allah Ta’ala (2:160). Apalagi menyalahkan dan melarang orang menunaikan ajaran yang dicontohkan Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk orang yang merasa memperoleh petunjuk dan menghalang-halangi orang di jalan Allah Ta’ala serta sebagai kawan syetan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَانِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِيْنٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Dan siapa saja berpaling dari ingat kepada tuhan Yang Maha Pemurah, Kami tunjuk baginya suatu setan, maka jadilah setan itu kawan baginya. Dan sesungguhnya mereka menghalang-halangi mereka dari jalan (yang benar), dan mereka mengira bahwa mereka terpimpin pada jalan yang benar (Zuhruf, 43:37-38)

Islam selamanya menghormati perbedaan di kalangan umat Islam, asal sikap itu bersumber dari Alquran dan Rasulullah ShollAllahu‘alaihi wa sallam serta didorong oleh kecintaan kepadanya. Perbedaan demikianlah yang mendatangkan rohmat. Rasulullah ShollAllahu‘alaihi wa sallam bersabda:

اِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ
Perbedaan dalam umatku adalah rohmat (Nashrul-Muqaddasi dalam Al-Chujjah, Al-Baihaqi dalam Risalah Al-Asy’ariyah dan Kanzul-Umal, Juz X/28686)


-----oo0oo-----




;;